Fullday School Vs Fullday Pesantren

Oleh : Syarifuddin Mustofa*

Foto : kompas.com
Fullday School
Full Day School (FDS), program yang sedang marak diperbincangkan oleh berbagai praktisi pendidikan serta kalangan orang tua wali dari siswa usia sekolah. Program tersebut menurut bapak menteri Mudjahir Effendy bertujuan untuk membuat siswa berada lebih banyak dalam lingkungan yang terkontrol disekolah maupun di luar sekolah.  Hal tersebut “dianggap” sesuai dengan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menerangkan tentang pemberian hak anak untuk memperoleh pendidikan, hak anak untuk bermain serta hak anak untuk berekspresi dan menyampaikan pendapat. Sesungguhnya, menurut saya latar belakang diadakanya program FDS adalah karena orang tua siswa yang merasa kurang bisa mengontrol anaknya dikarenakan kesibukan di luar serta jarangnya interaksi antara orang tua dan anak.

Pertanyaan yang timbul dari sebagian praktisi pendidikan terkait dengan adanya sistem FDS adalah bagaimana perasaan siswa dalam menjalani keseharian mereka di sekolah sepanjang hari?. Apakah mereka merasa senang untuk mempelajari sains, agama, bahasa, seni bahkan ekstrakurikuler dan pengembangan diri dalam lingkungan yang sama setiap hari?. Tidakkah mereka ingin untuk bermain layang layang lagi?. Hal tersebut mungkin hanya bisa dijawab oleh siswa FDS tersebut.

Fullday Pesantren
Disisi lain, di Indonesia sudah memiliki lembaga pendidikan yang menganut sistem fullday, yaitu pondok pesantren. Siswa atau dalam istilah pesantren disebut dengan “santri” menghabiskan waktunya setiap hari berada dalam lingkungan pesantren. Pembelajaran utama yang ada dalam pondok pesantren adalah pendidikan Agama Islam. Proses belajar mengajar formal yang ada dalam pesantren mayoritas memang hanya berlangsung waktu sore dan malam hari. Namun, dari pondok pesantren inilah muncul beberapa nama tokoh Negara seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Musthofa Bisri (Gus Mus), Din Syamsuddin, Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan masih banyak lagi yang lain.

Masalah yang timbul dalam lembaga pesantren adalah kurangnya jumlah “calon santri” yang mau mendaftar karena dari pondok pesantren tidak dikeluarkan ijazah resmi yang bisa digunakan untuk menunjang pekerjaan bagi lulusanya kelak.  Kurangnya pendidikan sains dasar seperti matematika dan fisika yang diajarkan. Masalah lain adalah terkait dengan lingkungan tempat tinggal di lingkungan pesantren yang cenderung Overload dan kurang bersih. Serta berbagai masalah lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Pro dan Kontra
Banyak terjadi pro dan kontra terkait dengan  dua sitem pendidikan tersebut. Namun, terlepas dari pro atau kontra tersebut, saya sebagai praktisi pendidikan lulusan program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang sekaligus menjadi santri dari pondok pesantren Al Luqmaniyyah Yogyakarta menawarkan solusi menurut saya sendiri. Solusi dari saya bagi orangtua yang masih merasa bimbang untuk menyekolahkan anaknya di sekolah atau pondok pesantren berbasis fullday adalah saya lebih memilih menyekolahkan calon peserta didik di sekolah formal yang tidak menganut system fullday, serta mendaftarkannya dalam lembaga pendidikan nonformal fullday pesantren.

Alasan saya berpendapat demikian adalah berkaca dari saya sendiri yang  mendapatkan semua ijazah formal dari sekolah non fullday. Disamping itu juga, saya juga mendapat pendidikan agama dan akhlak dari pondok pesantren. Saya yang pergi merantau ke Yogyakarta juga tidak merasa kehilangan sosok figur orang tua karena saya mendapatkanya dari kedua pengasuh pondok pesantren yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi kami para santri dan masyarakat sekitar. Dari sisi bermain dan mengekspresikan diri, masih terdapat porsi yang cukup untuk keduanya. Bukti dari hal tersebut adalah saya mempunyai hobi melukis dan menjadi anggota dari Komunitas Lukis Cat Air  Indonesia (KOLCAI) chapter Yogyakarta. Kegiatan melukis tersebut saya lakukan pada waktu senggang di sela-sela kegiatan keseharian atau pada waktu libur.  Tentu saja semua kegiatan yang saya lakukan tersebut terkontrol dan mendapat izin dari orang tua saya. Baik orang tua kandung maupun “orang tua” pesantren saya.

*) Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga,

Anggota Komunitas Cat Air Indonesia (KOLCAI). 

COMMENTS

Nama

Ala Islam,2,Bahtsul Masail,6,Bilik Kitab Kuning,2,cerpen,15,figur ulama,7,Humor Santri,4,Ipin dan Iman,3,kesehatan,2,LQ Zone,13,Nasihat,6,opini,14,profil santri,3,Puisi,9,Redaksi,2,tajuk utama,20,teknologi,5,Wawancara,1,
ltr
item
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner: Fullday School Vs Fullday Pesantren
Fullday School Vs Fullday Pesantren
https://3.bp.blogspot.com/-fH9qGEqglWQ/WazQeg4xqII/AAAAAAAADAo/slcJw5Y6QNY3xUwJ_3u5O_K80RyAO61RwCLcBGAs/s320/2015-06-24%2B10-27-39_0005.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-fH9qGEqglWQ/WazQeg4xqII/AAAAAAAADAo/slcJw5Y6QNY3xUwJ_3u5O_K80RyAO61RwCLcBGAs/s72-c/2015-06-24%2B10-27-39_0005.jpg
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2017/09/fullday-school-vs-fullday-pesantren.html
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2017/09/fullday-school-vs-fullday-pesantren.html
true
5050469009596547954
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy