Happy NU Year ! Harlah sebagai Refleksi dan kembali Meng-NU-kan diri



Oleh : Ubaidillah Romdlony dan Kharis

Media sosial saat ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi ia bisa bermanfaat untuk umat, namun disisi lain juga dapat mengahancurkan tatanan masyarakat. Seperti halnya yang sedang dialami bangsa ini. Bangsa ini sedang diuji dengan berbagai masalah. Baik permasalahan lokal maupun nasional. Yang mengatasnamakan isu agama maupun yang berbau pilkada. Ditambah lagi dengan sikap masyarakat yang begitu mudahnya percaya dengan media yang seolah-olah selalu benar dan kurangnya masyarakat untuk melakukan tabayyun dalam menghadapi setiap berita yang di dapat dari media sosial.

Beberapa waktu yang lalu isu-isu tentang penistaan agama dan Kitab Suci Al Qur’an menjadi berita sehari-hari di media sosial. Terkait dengan berita tersebut tentu masyarakat muslim yang kurang cermat dalam memilih dan memilah suatu berita begitu mudah untuk tersulut amarah sehingga ikut-ikutan ingin melakukan jihad. Tanpa tahu apa arti jihad itu sesungguhnya. Selama ini arti jihad sering disalahartikan dengan memerangi orang-orang yang dianggap kafir dan tidak sepaham dengan paham yang dianut. Padahal di dalam Al Quran telah dijelaskan tentang kehati-hatian memvonis orang lain kafir. Bahkan jika tuduhan tersebut keliru, justru yang menuduhlah yang sebenarnya kafir.

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan) nya.” (HR Bukari dan Muslim).

Hadirnya NU di tengah-tengah kondisi bangsa saat ini seakan menjadi penyejuk keadaan yang sedang panas tak karuan. Sikap NU dalam menghadapi permasalahan bangsa saat ini terkesan begitu santai dan tak terburu-buru dalam menghakimi siapa yang salah atau yang harus diadili. NU sebagai organisasi kemasyarakatan tradisional merupakan cermin dari bangsa Indonesia sesungguhnya. Bangsa yang selalu mengedepankan toleransi dan keramahan seperti nenek moyang bangsa Indonesia.

90 tahun lebih NU mengabdikan diri untuk menegakkan dan mengkokohkan persatuan bangsa. Seperti yang pernah dikatakan oleh Gus Dur “Seberapapun biayanya dan apapun resikonya, NU tetap akan tetap menjaga keutuhan NKRI”, inilah komitmen yang ditegaskan kembali oleh seorang tokoh yang sangat disegani dan menjadi panutan warga Nahdliyin. Nilai-nilai nasionalisme dalam tubuh NU tersebut merupakan gagasan besar Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari saat mendirikan organisasi kemasyarakatan ini. Fatwa jihad pada saat Bung Karno terdesak oleh penjajah saat itu contohnya. Bung Karno dan para tokoh nasional meminta fatwa kepada Sang Kyai mengenai hukum mempertahankan dan membela negara. Hingga tercetuslah fatwa jihad pada saat itu.

Dengan kokohnya pendirian NU dalam bersikap inilah membuat pihak-pihak yang kurang suka terhadap ketentraman warga Nahdliyin ini memanfaatkan media sosial sebagai senjata untuk mengadu domba, sehingga mereka ingin persatuan yang telah tertata denga rapi menjadi porak poranda. Tak hanya NU, bahkan negara Indonesia. Karena kebnyakan masyarakat lebih percaya terhadap berita-berita yang hadir dalam kehidupan sehar-hari tanpa bertabayyun atau mengklarifikasi terlebih dahulu, maka hal ini sangat bisa terjadi.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu ketua PBNU KH Said Aqil Siroj bahkan sempat difitnah dengan tuduhan beraliran syiah. Namun beliau tak serta merta naik pitam dan menyikapinya dengan penuh ketenangan. Sikap yang demikianlah yang beliau ambil dari nilai-nilai NU, toleran. Berbeda dengan warganya yang tidak terima dengan tuduhan tersebut, sehingga banyak warga nahdliyin yang justru marah dengan adanya berita tersebut. Hal ini dikarenakan sikap warga Nahdliyin terhadap kyai sangat patuh dan ta’dhim (Sami’na Wa Atho’na). Namun setelah Kyai Aqil Siroj mengajak warga NU untuk tidak termakan provokasi, baru kemudian masyarakat dapat kembali tenang.

Peringatan Harlah (Hari Lahir) Nahdlotul Ulama yang ke 91 pada tanggal 31 Januari yang lalu dengan tema “Budaya sebagai Infrastruktur Penguatan Paham Keagamaan” di Gedung Pusat PBNU menjadi momen evaluasi dan sebagai refleksi perjuangan para tokoh pendahulu dalam memperjuangkan NU dan semangat mempertahankan keutuhan NKRI hingga saat ini. Kiprah NU dan pesantren begitu besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini. Laffan (2003). sejarawan Islam terkemuka menelukan bahwa Islam memiliki kontribusi besar dalam sejarah panjang nasionalisme di IndonesiaNamun sayang, sejarah tersebut seakan tenggelam dan tergerus zaman, tak meninggalkan jejaknya di buku-buku sejarah sekolahan.


Kemeriahan dalam merayakan Harlah ini tak hanya dilakukan dan dirasakan di panggung utama serta di dunia nyata saja. Bahkan dunia maya pun ikut meramaikannya dengan membuat slogan-slogan maupun gambar-gambar yang dapat membangkitkan jiwa ke NU an. Sehingga NU dapat menggaungkan nama besarnya di seluruh penjuru dunia maya. Inilah sisi positif dari media itu, bemanfaat untuk kemajuan ummat. Tema yang diangkat pada harlah tahun ini sangat sesuai dengan kondisi bangsa ini yang sedang krisis akan budaya dan semangat persatuan. Semangat persatuan bangsa seharusnya kembali diserukan untuk melawan pihak-pihak yang ingin mencoba mengahcurkan NU dan bangsa ini. Dengan bersatunya semua unsur masyarakat, utamanya warga NU dengan nilai-nilai yang telah diajarkan para pendahulunya akan membuat kondisi bangsa yang saat ini panas penuh kegaduhan menjadi kembali tenang dan sejuk tanpa adanya perpecahan. (ch.lq).

COMMENTS

Nama

Ala Islam,2,Bahtsul Masail,6,Bilik Kitab Kuning,2,cerpen,14,figur ulama,7,Humor Santri,4,Ipin dan Iman,3,kesehatan,2,LQ Zone,13,Nasihat,6,opini,14,profil santri,3,Puisi,9,Redaksi,2,tajuk utama,20,teknologi,5,Wawancara,1,
ltr
item
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner: Happy NU Year ! Harlah sebagai Refleksi dan kembali Meng-NU-kan diri
Happy NU Year ! Harlah sebagai Refleksi dan kembali Meng-NU-kan diri
Media sosial saat ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi ia bisa bermanfaat untuk umat, namun disisi lain juga dapat mengahancurkan tatanan masyarakat. Seperti halnya yang sedang dialami bangsa ini. Bangsa ini sedang diuji dengan berbagai masalah. Baik permasalahan lokal maupun nasional. Yang mengatasnamakan isu agama maupun yang berbau pilkada. Ditambah lagi dengan sikap masyarakat yang begitu mudahnya percaya dengan media yang seolah-olah selalu benar dan kurangnya masyarakat untuk melakukan tabayyun dalam menghadapi setiap berita yang di dapat dari media sosial.
https://3.bp.blogspot.com/-1bIIE44JFss/WKuITiiQEaI/AAAAAAAACx4/rC7B6shsnQYx5sJqzjscojuIbNXU6sD-ACEw/s320/Harlah%2BNU%2B91%2B2017.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-1bIIE44JFss/WKuITiiQEaI/AAAAAAAACx4/rC7B6shsnQYx5sJqzjscojuIbNXU6sD-ACEw/s72-c/Harlah%2BNU%2B91%2B2017.jpg
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2017/02/happy-nu-year-harlah-sebagai-refleksi.html
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2017/02/happy-nu-year-harlah-sebagai-refleksi.html
true
5050469009596547954
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy