Cinta Yang dirindukan

Oleh : Kholil Arkham
Kupahami seyakin embun menetes ke sebidang daun yang tak pernah keliru, engkau dihadirkan Allah sebagai inspirasi tak berkehabisan, seperti Allah yang sama menurunkan embun di daun yang sama pada subuh sunyi yang membeda, semakna jernih embun yang menyegarkan dedaunan sebelum menempuh musim cahaya dan ia mulai bekerja senama fotosintesis menciptakan apa-apa yang diperlu ranting hingga akarnya, pagi itu, ba’da shubuh, Kurebahkan badanku di atas shofa ruang tamu, kuurungkan niatku menghabiskan indahnya pesona pagi dengan memandangi jalan dari balik jendela riben, jendela yang tidak bisa dipandang dari luar tetapi sangat jernih ketika memandang keluar.

Lamunan subuhku ditengah sayup sayup santri yang melafadzkan syair imrythi dibalik ruang aula yang berada tepat di depan rumahku, Tepat di sebelah aula terdengar pula sang waliyyul ilmi membacakan bab thoharoh dari fashlun ke fashlun dengan diikuti ritual klasik semua santri dalam menerima ilmu sampai pada akhirnya sang waliyyul ilmi memberikan doa nasehat seindah ini
“semoga kulo lan panjenengan bisa menjadi seperti air laut, Nampak biasa dari permukaan, bahkan terkadang banyak limbah dan sampah, namun di dasarnya tersimpan kekayaan yang luar biasa mulai dari rumput, ikan hingga intannya” tutur seorang waliyyul ilmi dengan penuh pemaknaan dan disambut dengan mata berkaca oleh santrinya.
“wa asta’inullaha fi alfiyah # maqashidu nahwi biha makhwiyyah” syair yang menyeruak keras dari lisan mungil sampai menembus dinding-dinding qolbu yang berada tepat disebelah rumahku.
“Wa’alaikumsalam umi, ya…ini Anisa semuanya sudah siap kok..nggeh, wa’alaikumsalam.” Ku dengar umi menutup telpon di seberang sana. Umi yang selalu menuangkan ilmunya bagi mereka yang membutuhkan di luar pondok, diwaktu pagi seperti ini.
Namaku Anisa Aqila, agak aneh memang jika orang mendengar namaku, Mungkin karena orang sekedar tahu arti luasnya saja. Abah memberiku nama ini, agar kelak aku menjadi seorang wanita yang dapat dibanggakan oleh suaminya.
Yaa… aku adalah anak dari seorang kyai dengan ratusan santri yang sedang mencari makna dari sebuah lafadz ilmu. Suasana seperti ini merupakan suasana yang tak asing bagiku, lantunan syair-syair ilmu menambah ketentraman bagi setiap orang yang mendengarnya. aku telah melewati rasa ini beberapa saat, kunikmati setiap detik aku bernafas. Mungkin beberapa hari kedepan aku tidak bisa merasakan indahnya pagi di pondok pesantren qomarul huda ini, sungguh kebahagiaan yang tak bisa diuntai dengan bait ataupun syair puisi manapun karena besok adalah hari dimana sejarah akan mencatatnya kalau aku akan menjadi seorang istri dari sang waliiyul ilmi faqih al rawi, seorang yang selalu mencari makna dari setiap ilmu yang diajarkannya.
Hingga pada saatnya hari itu yang selalu di impikan bagi setiap muslimah yang masih memegang teguh akidahnya dari setiap perbuatan yang menodainya. Tepat tanggal 10 syawal, seperti biasa di antara waktu mustajabah adalah detik-detik dekat-dekat akad nikahku, maka alangkah baik bila ku pinta setulus do'a baik yang membaikkan rumah tanggaku dunya wa ukhro.
Kumohon di dekat-dekat detik-detik akad itu jangan mendengar kata seperti
“bila aku mendhalimi istriku nanti” atau “bilaku meninggalkannya berbulan2 dan tak menafkahi”, hingga istriku membayar sekian rupiah maka jatuhlah talakku”
Aku mohon atas nama langit, bumi, rembulan dan matahari, jangan terdengar ucapkan itu, sebab khawatirku, malaikat yg hadir di majlis mubarok akadku menyangkanya doa, dan para malaikat itu mengaminkan.
Di sebuah masjid pondok dalam mihrab yang telah didesain anggun oleh para santri putri, di situlah majelis akadku di laksanakan, dan di situlah aku dihadapkan oleh suasana perasaan yang tak tentu antara bahagia dan resah, bahagia karena hari ini hari yang memang bahagia dan perasaan resah karena kulirik dengan mata kananku ada perdebatan dalam majelis mubarok, ada apa ini? hati ku bertanya-tanya.
Sang waliyyul ilmi, dia adalah santri dan calon suamiku yang dinikahkan wakil wali oleh kiai sepuh, saat menjelang akad, dia terlihat berbisik kepada petugas KUA. Rupa-rupanya dia sedang bernegosiasi masalah sighot ta'liq. Kepada petugas dia meminta tidak perlu ada pembacaan sighot ta'liq dan termasuk tandatangan juga tidak perlu.
Sang naib menego balik. Intinya tidak dibaca tak mengapa tapi wajib tandatangan. Negosiasi getol terus bergulir, hingga seperempat, setengah, satu jam, tak ada titik mufakat.
Sampean iki taat negoro apa ndak mas?” tegas petugas KUA
Lho, pak…saya sudah mendaftarkan nikah, ini berarti taat negara. Padahal andai tidak daftar pun saya tetap bisa menikah dan sah” sahut faqih al rawi
Tapi masalah sighot ta'liq itu kan aturan Negara”.
Saya tidak bisa taat pada aturan yang bagi saya keliru”.
Kok keliru, Sampean menyalahkan negara?” Tanya petugas KUA dengan nada tinggi.
Saya menyalahkan wajibnya sighot ta'liq. Adakah yang baik bila seorang yang menikah dan di akad sucinya malah dia berandai-andai yang buruk seperti dituang sighot ta'liq itu?. Nikah itu yg diharap sakinah abadan, lha kok malah sudah ngilani gusti Allah. Kalau nanti saya mendhalimi istri, ini dan anu!!!” jelas sang waliyyul ilmi dengan penuh kemantapan. Semua hadirin diam seribu bahasa, tak terasa eluh air mataku menetes, pipiku terasa basah mulutku seolah ingin berontak entah kemana, suasana yang tidak pernah disangka apakah ini petaka akad bagi santri??pikiranku terus dibuat berputar oleh semua kejadian ini.
Itu buat jaga-jaga” jawab petugas KUA yang tak kalah.
Lha memangnya saya maling? Kok dijaga-jaga???. Meski saya santri yg jahil, tapi kiai saya mngajarkan dengan baik seperti apa suami yg baik.”
Iya saya tahu kamu baik, tapi ini aturan”
“Ya sudah, saya menikah tanpa dibukunikahkan. Saya lebih baik menikah dengan husnudhon kepada Allah bahwa kami akan dibaik2kan saja, daripada saya menikah dengan suudhon kepada Allah atas nama taat Negara” tutur faqih al rawi dengan tetap memegang keyakinannya
Ini sudah aturan mas kalau mas tahu” solot petugas KUA dengan nada tinggi
Usai perdebatan itu, hadirin kacau, keluarga mempelai putra naik pitam dan meninggalkan majelis  Akhirnya pernikahan gagal. Aku tidak tahu harus bagaimana perasaan ini seolah teroyak oleh kejadian ini, aku menganggap sang waliyyul ilmi adalah pilihan aku yang terbaik ketika kusodorkan kepada abah dan umi, Kukagumi kau dalam banyak, dan yang mampu kubahasa dua di antara, bilapun kau mendiamiku tiada berkesudah, atau bila kau meniadakanku sebagai yang sudah, maka sejauh rintihku menghitung dentum sunyi dan tanya, kupikir semakinku mengagumimu, aku malu dengan muka dan tanggung jawabku sebagai seorang anak dari seorang yang tahu akan agama. Nistaku mungkin telah menghitamkan sungai Mahakam memuarai selaut kelam perjumpanya dosa tujuh muara, aku anak yang tak patuh pada orang tua, seribu sesal menyungkur di gapura muria biar kuteguk mata air surgawi ini. Aku tahu makna tersaji di sedalam gemuruh dadaku, di sana kau memahatkan sebentang doa tentang aku yang seorang putri mungil sedang meneguh diri di bawah naung kedua asal muliamu yang kau agungkan di atas segala.
Saat sungkem kepada umi, aku dikejutkan dengan selinang doa yang membedai tahun-tahun menyilam. Yang biasanya tentang ilmu nafi', kini tentang...
Anakku tak dungakke cedak jodone. Entuk jodo sing sholih. Sekirane biso nyatakke dawuh kanjeng nabi, dawuh Al Qur'an, yen dalane sakinah iku nikah karo seng sholih”
Aku berkata “amin...amin” sepenuh pasrah, meski seruang kecil hati menggemuruh tanya.
Aku meyakinkan diri ruh dan jasad, aku pasti difadhalkan Allah berjodoh dengan yang saleh itu. Sebab Allah sendiri yang menjamin, setiap doa baik dari orang tua kepada anaknya, adalah doa yang tidak masuk akal bila tak terkabulkan di bawah naung Rahmat-Nya.


COMMENTS

Nama

Ala Islam,2,Bahtsul Masail,6,Bilik Kitab Kuning,2,cerpen,14,figur ulama,7,Humor Santri,4,Ipin dan Iman,3,kesehatan,2,LQ Zone,13,Nasihat,6,opini,14,profil santri,3,Puisi,9,Redaksi,2,tajuk utama,20,teknologi,5,Wawancara,1,
ltr
item
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner: Cinta Yang dirindukan
Cinta Yang dirindukan
https://2.bp.blogspot.com/-MzbU2lKiOmg/WEGk9xgjaLI/AAAAAAAAAFU/gLRMQ6uTxioDLK_S9nCnGOqKp_jVBnv5gCLcB/s200/hqdefault.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-MzbU2lKiOmg/WEGk9xgjaLI/AAAAAAAAAFU/gLRMQ6uTxioDLK_S9nCnGOqKp_jVBnv5gCLcB/s72-c/hqdefault.jpg
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2016/12/cinta-yang-dirindukan.html
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2016/12/cinta-yang-dirindukan.html
true
5050469009596547954
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy