Belajar dari Bulan Rajab

Oleh : Ubaidillah Romdlony

Tak terasa waktu berputar begitu cepat. Sungguh ungkapan waktu ibarat pedang sangat tepat disandangkan. Sebab, baru kemarin rasanya menikmati kekhusyuan ibadah di bulan Ramadhan, kini Ramadhan kembali segera menyapa. Salah satu indikatornya adalah saat ini kita berada di bulan Rajab atau dengan kata lain, lebih satu bulan lagi (baca: Sya’ban), sebelum masuk bulan Ramadhan. Yapz, dapat dikatakan bulan Rajab merupakan pintu gerbang utama menuju bulan yang agung tersebut.

            What about Rajab? Jawaban itu hanya dapat dijawab oleh orang-orang yang mencurahkan akalnya untuk berpikir (ulul albab). Sebab, sejatinya, dalam setiap pergantian malam, siang, hari, bulan, bahkan tahun, semuanya memiliki rahasia dan hikmah yang hanya dapat diperoleh bagi generasi ulul albab (QS. Ali Imran : 190). Tentunya, kita juga berusaha menjadi generasi gemilang tersebut, karenanya, mari sejenak kita merenung hikmah-hikmah yang terkandung di dalam bulan Rajab.
Pertama, sesuai dengan namanya, kata Rajab memiliki beberapa makna, di antaranya ialah malu. Rajab merefleksikan kepada diri kita, bahwa hidup ini harus memiliki rasa malu. Tetapi, jangan salah menempatkan rasa malu, malulah kepada Allah jika selama setahun ini, tidak ada perubahan besar dalam hidup kita. Malulah pada diri ini jika 365 hari, dari Rajab kembali ke Rajab, kita tidak mengalami kemajuan yang pesat. Malulah jika Rajab yang dulu dan yang sekarang sama saja. Sekali lagi, bulan Rajab ini dapat menjadi gerakan awal bagi kita untuk berubah (move on). Kehadiran bulan Rajab dapat menjadi kritik bagi diri kita, manakala tidak ada peningkatan dalam setiap pergantian waktu, hari, bulan, dan tahun.
Dari sikap malu tersebut, maka akan lahir sikap introspeksi diri (muhasabah an nafs) untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mulai sekarang, perbaiki diri, songsong dan isi bulan Rajab dengan kebaikan-kebaikan yang membawa kemashlahatan bagi sesama. Sebab, sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain.
Kedua, dari segi timing, bulan Rajab merupakan pintu gerbang utama dan pertama sebelum masuk bulan Ramadhan. Ulama terdahulu telah mengajarkan lantunan doa yang mulai dibaca di bulan Rajab: Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban wa ballighna fii ramadhan. Doa ini cukup familiar, khususnya di kalangan santri, sebab, memasuki bulan Rajab, kurang afdhol tanpa membaca doa ini. Satu hal yang dapat dipetik dari tradisi tersebut, bahwasanya dengan kemuliaan bulan Ramadhan, maka tidak cukup hanya mengisi ibadah di bulan Ramadhannya saja, tetapi menyongsongnya pun dari jauh hari telah dipersiapkan dengan matang. Dua bulan sebelum memasuki bulan Ramadhan, kita telah diajarkan untuk menata diri dan hati ini, sehingga dapat menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih. Karenanya, melalui bulan Rajab ini kita diajarkan bahwa segala sesuatu yang dianggap ‘istimewa’, harus dipersiapkan dengan baik dari jauh-jauh hari. Kita sebagai seorang santri, menganggap bahwa lulus dari pondok merupakan kebanggaan tersendiri, maka sebelum lulus, dari jauh-jauh hari kita harus mempersiapkan diri, agar benar-benar bisa menyandang predikat ‘alumni’ pondok pesantren. Begitupula sebagai mahasiswa, jika prosesi wisuda dianggap sesuatu yang sakral dan istimewa, maka dari awal harus dipersiapkan dengan matang agar prosesi wisuda dapat dilalui dengan baik bahkan memperoleh predikat memuaskan. Begitupula dalam memandang kehidupan rumah tangga, tentunya dari awal harus menata dan mempersiapkan diri, untuk menyongsong kehidupan baru dengan pasangan yang ideal. Itu semua harus dilakukan tentunya dengan persiapan-persiapan yang matang.
Lebih lanjut lagi, sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa puncak kenikmatan tertinggi adalah ketika di akhirat kelak dapat berjumpa dengan Allah Swt. Karenanya, untuk mencapai hal tersebut, persiapannya harus dilakukan sejak kehidupan di dunia ini. Kembali bulan Rajab mengajarkan kita untuk bersikap visioner, tidak ada yang instant di dunia ini, jika kita hendak mencapai puncak, maka tentunya harus mendaki, menapaki jalan setapak demi setapak dengan penuh kesungguhan.
Terakhir, dalam bulan Rajab, terdapat salah satu peristiwa bersejarah bagi umat Islam, yaitu Isra Mi’raj. Banyak hikmah dari perjalanan Nabi Saw tersebut, dan hikmah tersebut telah berulang kali diutarakan oleh para muballigh setiap tahunnya ketika memperingati Isra Mi’raj. Tetapi, mari kita lihat hal tersebut dari perspektif yang berbeda. Pada saat itu, Nabi Saw melakukan perjalanan dari Mekah ke Palestina dalam sebagian malam saja. Jika menggunakan paradigma orang di zaman tersebut, mustahil untuk melakukannya. Tetapi, jika kita menggunakan paradigma saat ini, hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Ini mengajarkan kepada kita, nilai lain dari Isra Mi’raj, bahwasanya ilmu pengetahuan terus berkembang. Bisa saja dulu belum dapat di nalar, tetapi sekarang sudah terbukti. Begitupula saat ini mungkin belum dapat di nalar, tetapi di masa mendatang dapat dibuktikan secara ilmiah. Oleh karena itu, membaca Isra Mi’raj jangan hanya dari sudut pandang teologis semata, tetapi juga dari sudut pandang keilmuan modern. Dari kisah ini, umat Islam diajak untuk selalu peka dan open minded (berpikiran terbuka) dalam menerima dan menelaah ilmu pengetahuan. Jangan sampai umat Islam menjadi ‘anti’ terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, sebab, banyak hal dalam keagamaan ini yang tidak dapat diselesaikan permasalahannya tanpa diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan.
So, dari bulan Rajab ini setidaknya kita belajar tiga pelajaran berharga, pertama, malulah terhadap diri jika belum dapat melakukan perubahan (move on), kedua, persiapan itu penting untuk menyambut ‘something’ yang istimewa atau hasil yang memuaskan, dan ketiga berusaha menjadi pribadi muslim yang intelek, muslim yang ilmuwan, muslim yang membawa perubahan.
Wallahu a’lam bish showwab.[]


COMMENTS

Nama

Ala Islam,2,Bahtsul Masail,6,Bilik Kitab Kuning,2,cerpen,14,figur ulama,7,Humor Santri,4,Ipin dan Iman,3,kesehatan,2,LQ Zone,13,Nasihat,6,opini,14,profil santri,3,Puisi,9,Redaksi,2,tajuk utama,20,teknologi,5,Wawancara,1,
ltr
item
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner: Belajar dari Bulan Rajab
Belajar dari Bulan Rajab
https://1.bp.blogspot.com/-bvbOAC4zLmo/WEIQIMwdKFI/AAAAAAAAAF8/9F5YBJfkCNgXq8G0zqzxCyIpeYYcWCUMwCLcB/s200/Rajab.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-bvbOAC4zLmo/WEIQIMwdKFI/AAAAAAAAAF8/9F5YBJfkCNgXq8G0zqzxCyIpeYYcWCUMwCLcB/s72-c/Rajab.jpg
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2016/12/belajar-dari-bulan-rajab.html
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2016/12/belajar-dari-bulan-rajab.html
true
5050469009596547954
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy