SANTRI INSTAN, KUALITAS KARBIDAN



SANTRI INSTAN, KUALITAS KARBIDAN
Oleh : Abdul Majid Zubairi

Dalam sejarahnya, Santri dan masyarakat, khususnya di Indonesia adalah dua sosok yang tidak dapat dipisahkan. Kaum santri berhasil menyumbang tatanan nilai dan moral yang kemudian dipegang teguh oleh masyarakat. Hal ini sangat wajar, karena kala itu, masyarakat melihat bahwa santri adalah sosok yang religius, dengan dasar keilmuan islam yang mumpuni serta memiliki jiwa yang konsisten dan mandiri. Bahkan kala itu masyarakat memandang santri adalah manusia pemecah segala masalah.

Namun, belakangan ini tidak jarang kita temui orang-orang yang mengatasnamakan dirinya Ustad, Kiyai atau Ulama tetapi dengan kualitas keilmuan islam yang bisa dibilang pas-pasan. Hanya bermodal sorban yang dikalungkan di leher, sedikit retorika, dan dalil-dalil yang didapat dari buku-buku terjemahan, mereka seolah sudah benar-benar siap untuk ‘memproklamirkan’ dirinya sebagai seorang ‘Alim. Orang-orang ini lebih mengedepankan bungkus daripada isi, lebih mengutamakan citra daripada kualitas diri. Padahal, seperti kita ketahui bersama, untuk memahami sumber ilmu dalam islam (Qur’an dan Hadis) tidaklah cukup hanya dengan membaca terjemahannya saja. Ini disebabkan Bahasa Arab yang merupakan bahasa asal Quran dan Hadis merupakan bahasa yang kompleks, buku-buku terjemahan saja tidak cukup untuk menangkap isi serta pesan keduanya secara maksimal. Dibutuhkan ilmu-ilmu penunjang dalam memahami setiap kalimat, kata, bahkan hurufnya.
Sayangnya, fenomena di atas sebagai salah satu akibat dari budaya instan, kini mulai mengancam sebagian santri. Mereka kini lebih suka memahami kitab-kitab yang diajarkan di pesantren melalui buku-buku terjemahan, menanyakan suatu permasalahan kepada mbah google daripada mencari jawaban langsung di kitab yang bersangkutan ataupun dengan jalan diskusi. Hal ini sangatlah berbahaya, karena jika santri terus memelihara budaya instan itu, lambat laun para santri akan menjadi sosok yang mudah menyerah, cengeng, lembek, mudah berputus asa, tidak punya nalar kritis, lupa dengan salah satu ajaran pokok bernama kesabaran, yang ujung-ujungnya mereka hanya menjadi pengekor yang tidak bisa apa-apa. Jika sudah begini, bagaimana mungkin santri bisa dijadikan panutan oleh masyarakat? jangankan jadi panutan, membedakan antara yang salah dan benar, halal dan haram saja sepertinya akan kesusahan..
Budaya instan sebagai gejala sosial di kalangan santri tumbuh berkembang karena dua faktor, yakni faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal misalnya, ketidaksiapan para santri menyambut derasnya arus globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan bidang teknologi dan informasi. Bagi santri-santri yang memiliki kesadaran signifikan dan ketahanan budaya, tentu mereka akan bisa menyaring dan menfilter dengan baik setiap efek buruk dari budaya baru yang sedang memasukinya. Namun itu sama sekali tidak relevan bagi santri-santri yang belum dewasa dan cenderung latah. Di sinilah bahayanya. Mereka yang belum dewasa dalam arti kesiapan mental berupa filter budaya akan sangat mudah mengimani serta mengamini tanpa reserve (syarat). Apa lagi ketika sudah terjerembab pada kebiasaan konsumerisme yang begitu tinggi yang dikatalisatori oleh industri yang menyajikan produk-produk instan. Faktor kedua ialah kerapuhan jiwa dan nurani akibat tergerusnya keluhuran nilai budi dan kekuatan rohani. Bisa dimetaforkan laksana fungsi kekebalan tubuh pada diri manusia. Selama fungsi kekebalan tubuh berjalan normal, maka virus-virus yang menyerang bisa diatasi dengan mudah, adapun jika kekebalan tubuhnya sudah melemah atau bahkan sudah tak berfungsi maka rawan terserang penyakit dan tentu saja amat membahayakan badan manusia. Demikian faktor eksternal-internal yang minimal bisa menjelaskan proses terjadinya budaya instan.
Setiap pilihan pastilah memiliki dampak, baik itu dampak positif maupun negatif. Begitu pula dengan budaya instan yang tidak melulu hanya memiliki dampak negatif, ia juga memiliki beberapa dampak positif seperti dapat membuat waktu lebih efisien, meminimalisir terjadinya pemborosan waktu, membantu terciptanya produktivitas yang tinggi, dan yang utama bisa memenuhi kebutuhan manusia secara lekas dan cepat. Sedangkan dampak negatifnya seperti yang telah dijelaskan di awal. Akan tetapi, dari paparan beberapa paragraf di atas, minimal kita bisa menakar, menimbang dengan akurasi penilaian yang obyektif bahwa kadar dampak negatif dari budaya instan ini lebih banyak daripada positifnya.
Adapun sebagai langkah pencegahan agar tidak terlena oleh budaya instan, serta dalam rangka memahami islam yang benar. Sebuah benteng perlu segera dibangun. Benteng yang dengannya, religiusitas budaya santri terus dipertahankan. Tentunya tak lantas menolak sepenuhnya segala budaya yang masuk selama tidak bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam dan pesantren. Benteng yang dimaksud bukan dalam arti yang literal. Benteng yang dimaksud ialah sebuah pertahanan (budaya) yang terejawantah dalam kebiasaan santri bersikap kritis. Dengan begitu, budaya luar tidak mudah memengaruhi santri. Selain itu alangkah baiknya jika setiap santri berusaha selalu menanamkan pemahaman dalam diri bahwa sesuatu yang dihasilkan secara instan tidak akan memberikan kualitas yang maksimal. Layaknya kita menggunakan ‘karbida’ untuk mempercepat proses kematangan buah. Memang benar buah akan matang namun hasilnya tidak akan maksimal dan sebagus yang benar-benar matang secara alami.
Akhirnya, dengan tulisan yang sangat singkat ini saya tidak bermaksud melarang atau bahkan menyalahkan para santri maupun orang-orang yang membaca terjemahan atau browsing di internet, apalagi kita semua hidup di era globalisasi seperti sekarang ini. Yang perlu ditekankan di sini ialah, tidak masalah kita menggunakan kemudahan-kemudahan yang ada, asal tidak sampai menimbulkan ketergantungan karena telah menjadikannya sebagai rujukan utama dalam mempelajari agama atau lainnya. Akan tetapi, jadikanlah kemudahan itu sebagai sarana pembantu dan pelengkap saja. Sampai di sini semoga kita memiliki pemahaman yang sama, bahwa terlalu mendewakan sesuatu yang instan itu sungguh-sungguh tidak keren!!!...


COMMENTS

Nama

Ala Islam,2,Bahtsul Masail,6,Bilik Kitab Kuning,2,cerpen,15,figur ulama,7,Humor Santri,4,Ipin dan Iman,3,kesehatan,2,LQ Zone,13,Nasihat,6,opini,14,profil santri,3,Puisi,9,Redaksi,2,tajuk utama,20,teknologi,5,Wawancara,1,
ltr
item
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner: SANTRI INSTAN, KUALITAS KARBIDAN
SANTRI INSTAN, KUALITAS KARBIDAN
https://1.bp.blogspot.com/-VJQf0rhuWb0/VxMkdFqMIGI/AAAAAAAAAXU/VGKd4PRH0ZckBk6haOr-Zq_jaKQkoedzgCLcB/s200/santri-NU.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-VJQf0rhuWb0/VxMkdFqMIGI/AAAAAAAAAXU/VGKd4PRH0ZckBk6haOr-Zq_jaKQkoedzgCLcB/s72-c/santri-NU.jpg
IQRO' ONLINE | PPLQ Media Partner
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2016/04/santri-instan-kualitas-karbidan.html
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/
http://iqro.al-luqmaniyyah.id/2016/04/santri-instan-kualitas-karbidan.html
true
5050469009596547954
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy